Kamis, 09 Februari 2017

DALAM PANDANGAN DUNIA ISLAM

Dalam Pandangan Dunia Islam, alam wujud ini memiliki Tuhan yang menciptakan dan mengaturnya. Manusia adalah makhluk imortal yang tidak akan binasa dengan kematian, tapi berpindah dari dunia ini menuju alam akhirat untuk mendapatkan ganjaran perbuatan baik dan buruk yang dilakukannya.
Islam memandang manusia sebagai makhluk berikhtiar dan mukallaf (menerima tugas dan tanggungjawab). Ia tidak diciptakan tanpa suatu tujuan, tapi ia lahir untuk mendapatkan kesempurnaan jiwa dan bergerak menuju Allah yang akhirnya bermuara pada kehidupan bahagia di akhirat. Manusia adalah makhluk dua dimensi:
Dari satu sisi, ia adalah makhluk yang mempunyai naluri hewani dan hawa nafsu, yang mau tidak mau, harus dipenuhi olehnya.
Di lain pihak, ia memiliki ruh malakuti yang membuatnya lebih unggul dibanding hewan-hewan lain. Sebab itu, dia diangkat menjadi khalifah Allah dan kedudukannya lebih tinggi ketimbang malaikat. Kehidupan batin manusia juga memiliki kebahagiaan dan kesengsaraan. Ia bisa mencapai kesempurnaan dengan syarat ia mampu mengembangkan dimensi insani dan malakutinya serta mengontrol hawa nafsu hewaninya.
Di sinilah kedudukan nilai-nilai akhlak akan terlihat, yaitu kesempurnaan jiwa yang selaras dengan ruh malakuti manusia dan yang akan menyinari jiwanya serta menenangkannya.
Adapun akhlak tercela dan tenggelam dalam hawa nafsu, sangat kontras dengan ruh dan hakikat mulia manusia. Kedua hal ini akan melemahkan sisi insaninya dan menyeretnya ke jurang kehinaan.
Meski Islam menyebut nilai-nilai akhlak selaras dengan fitrah manusia, tapi ia tidak menganggapnya cukup dalam menyeru manusia kepada akhlak terpuji dan menjauhkannya dari akhlak tercela. Oleh karena itu, ia menyeru manusia kepada akhlak terpuji melalui cara mempertebal iman kepada Allah, hari akhir, janji pahala ukhrawi dan ancaman siksa neraka.
Akhlak dalam Islam bertumpu atas iman kepada Allah, hari akhir, harapan akan pahala dan rasa takut dari azab yang merupakan jaminan terbaik seseorang berakhlak mulia. Dampak dari iman kepada Allah dan mencari ridha-Nya adalah seseorang bisa lebih mudah mengendalikan naluri hewaninya dan menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan seperti itsâr (altruisme: mementingkan orang lain), pengorbanan, membela orang terzalimi, memerangi kezaliman, menegakkan keadilan, jihad, sifat amanah dan berbuat baik kepada orang lain.
Pada prinsipnya, Islam menilai harga setiap perbuatan dari sisi iman dan niat taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Norma-norma akhlakpun akan memberi kesempurnaan dan kebahagiaan kepada manusia bila didasari iman dan niat taqarrub. Bila tidak, maka semuanya akan sia-sia., walau dalam pandangan umum, hal itu masih dianggap sebuah keutamaan.



Menurut ulama, definisi perbuatan akhlak (fi`l akhlaqi) adalah: Perbuatan atau sifat yang kebaikan atau keburukannya diketahui akal sehat dan semua manusia, di semua zaman dan tempat, sepakat tentang kebaikan atau keburukannya. Perbuatan akhlak adalah suatu tindakan yang kebaikannya diketahui nurani dan seorang merasa harus melakukannya atau tindakan yang keburukannya diketahui nurani manusia hingga membuatnya merasa bahwa itu tidak sesuai dengan sifat insaninya dan harus ditinggalkan.
Dalam Islam, akhlak terpuji memiliki kedudukan dan nilai yang sangat penting hingga ia disebut sebagai salah satu tanda keimanan. Ia juga disebut sebagai salah satu amalan yang memiliki timbangan terberat di hari akhir. Sedemikian pentingnya mengembangkan akhlak terpuji hingga menjadi salah satu tujuan pengutusan Nabi saw.
Al-Quran berkata, Allah memberi anugerah kepada orang-orang beriman dengan cara mengutus seorang rasul dari mereka. (Ia diutus) untuk membacakan ayat-ayat Allah kepada mereka, menyucikan diri mereka dan mengajarkan kitab dan hikmah kepada mereka, walau sebelum ini, mereka berada dalam kesesatan nyata. [50]
Rasulullah saw bersabda, “Aku berpesan kepada kalian untuk berakhlak mulia, karena Allah mengutusku untuk tujuan ini.” [51]
Beliau juga bersabda, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” [52]
Imam Muhammad Baqir as berkata, “Orang mukmin yang imannya paling sempurna adalah yang berakhlak lebih baik.”[53]
Sabda Rasul saw lainnya berbunyi, “Pada hari kiamat, tidak ada sesuatu yang lebih berat timbangannya daripada akhlak yang terpuji.”[54]
Imam Shadiq as mengatakan, “Allah memberi pahala kepada hamba-Nya berkat akhlak terpujinya sama seperti pahala yang diberikan pagi dan malam kepada seorang pejuang di jalan-Nya.”[55]
Dalam hadis lain, Rasul saw bersabda, “Akhlak terpuji adalah setengah iman.” [56]
Islam memberi banyak wejangan kepada para pengikutnya sekaitan dengan penyucian hati dan pengembangan akhlak terpuji. Banyak ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang akhlak dan moral, bahkan kebanyakan kisah-kisahnya bertujuan membentuk akhlak mulia dalam diri manusia. Ribuan hadis dinukil dari Rasul saw dan para Imam as seputar masalah akhlak terpuji dan tercela. Pahala yang dijanjikan untuk akhlak terpuji dan hukuman bagi akhlak tercela pastilah tidak lebih sedikit dari pahala dan hukuman untuk hal-hal wajib dan haram, karena keduanya adalah faktor kesempurnaan jiwa dan kedekatan kepada Allah atau kehinaan jiwa dan keterasingan dari Allah.
Maka itu, hal-hal yang berkaitan dengan akhlak harus disandingkan dengan hukum syariat atau bahkan diprioritaskan. Tidak layak bila kita mengacuhkannya hanya dengan alasan bahwa itu sekedar wejangan akhlak belaka. Pada prinsipnya, kehidupan manusia tidak mungkin lepas dari akhlak terpuji. Sebab itu, semua bangsa dan suku di dunia senantiasa berpegang kepada nilai-nilai akhlak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar