Selasa, 21 Februari 2017

Menghirup secangkir kopi

Menghirup secangkir kopi serupa menghirup kehidupan itu sendiri. Pahit dan manisnya tak terelakkan. Tapi Begitulah, kesejatian kehidupan adalah tentang keanekaragaman rasa dan perubahan-perubahan yang mesti selalu disyukuri.
Siapa yang tidak tahu kopi? Bisa dipastikan setiap orang tidak hanya mengenalnya, bahkan mungkin sudah mencicipinya dan sebagian malah mungkin menjadi salah satu dari penggemar minuman berwarna hitam ini.
Konon, kopi pertama kali ditemukan di daerah dataran tinggi di jazirah Arab. Dan, bangsa yang mendiami gurun itulah yang mula-mula meminumnya sebagai minuman penghangat tubuh di malam hari saat rehat sejenak dalam perjalanan dagang yang jauh dan melelahkan.
Sebelum mendunia seperti saat ini, si biji hitam ini, di abad pertengahan, oleh kalangan gereja sempat dicap sebagai biji iblis dan tidak banyak orang yang berani meminumnya. Namun kini, tidak sedikit pengusaha yang sukses membangun kerajaan bisnis mereka dengan mengandalkan daya pikat dan cita rasa si hitam ini.
Di kalangan masyarakat perkotaan, seiring dengan tumbuh dan menjamurnya kedai-kedai kopi yang cozy dengan sentuhan seni di sana-sini, juga makin beragam cita rasa dan cara pengolahan yang unik, menghirup secangkir kopi, rupanya, tidak sekadar sebagai penuntasan kerinduan rasa tapi menjelma sebagai lifestyle, gaya hidup.
Tentunya, urusan menikmati cita rasa si hitam ini tidak hanya monopoli masyarakat urban, tapi bahkan masyarakat yang hidup jauh dari perkotaan pun tak kalah agresif dalam menandaskan kehausan mereka pada cita rasa yang ditawarkan si hitam ini.
"Aku tunggu di kedai seperti biasanya. Kita ngopi rame-rame!" begitulah pesan via WA yang saya terima.
Dan benar saja, ketika selepas pukul 10 pagi saya ke kedai itu. Suasana sudah sangat ramai. Kawan-kawan sudah menunggu di sana. Beberapa orang bahkan tak kebagian kursi. Tapi mereka rela duduk berhimpitan di atas dipan bambu.
Kedai yang disesaki orang itu, tentu saja, jauh dari kesan mewah. Hanya kedai biasa yang sederhana. Tapi ngopi di sini bukan soal tempat. Tapi soal cita rasa kopi itu sendiri. Dan tentu saja obrolan hangat tentang apa saja di antara orang-orang dari beragam usia.
Di sepanjang pantai utara Lamongan, yang membentang sekitar 30-an kilometer dari Weru di sebelah timur dan Sedayu Lawas di sebelah barat, terdapat puluhan lebih kedai kopi. Saling berdempetan lagi. Dan, bisa dipastikan pemilik kedai-kedai itu meracik kopinya sendiri. Mereka menghindari menghidangkan kopi sachet. Karena tak akan laku.
Mereka menyebut kopi hasil racikan sendiri itu sebagai 'kopi asli'. Meskipun kopi sachet, tentu saja, juga kopi beneran. Masa, kopi palsu? Hehe! Ya, tapi begitulah mereka menyebut kopi olahan mereka sendiri itu.
Soal cita rasa? Jangan ditanya. Hmm...maknyus! mantap! Begitu mungkin komentar Pak Bondan, tokoh kuliner itu andai mencicipinya.
Kopi-kopi yang sudah diracik itu dihidangkan secara hitam pekat. Kental. Dalam cangkir-cangkir keramik kecil dengan gagang yang sengaja dipreteli. Entahlah mengapa begitu? Tapi itulah ciri khasnya.
Di kedai-kedai ini, jangan pernah berharap menemukan orang minum kopi dalam gelas besar karena akan dinilai sebagai hal yang ganjil.
"Hei, riko iku lho, Cak, ngombe kopi opo ngombe banyu?" ledek Cak Golden saat Ronggo, seorang kawan, yang pesan kopi dalam gelas besar. Sudah gelas besar encer pula kopinya.
Kopi di sini digiling secara berulang. Nah, ketika si pemesan kopi telah menandaskan hasratnya. Ampas kopi yang pekat dan lembut di cangkir itu bahkan bisa dipakai untuk membatik batang rokok. Dan sebagian besar penikmat kopi itu melakukannya.
Kenikmatan yang ditawarkan dalam secangkir kopi pekat di kedai-kedai di sepanjang pantai utara Lamongan ini cuma ditebus dengan empat lembar uang seribuan. Cukup murah, bukan?
Sepanjang hari, kedai-kedai tak pernah sepi. Sudah lazim bahwa orang-orang di sini dalam sehari bisa tiga atau empat kali bolak-balik ke kedai kopi. Untuk apa? Ya, untuk ngopi tentu saja. Mereka bisa menghabiskan tiga hingga enam cangkir kopi pekat sehari.
Pagi ngopi. Siang ngopi. Sore ngopi. Malam ngopi. Mau tidur ngopi. Mungkin saja, dalam tidur mereka juga ngopi. Ya, siapa tahu? Hehe.
Tapi begitulah, minum kopi atau menghirup kopi bagi orang-orang di sepanjang pesisir utara Lamongan bukan lagi soal lifestyle tapi bahkan telah menjadi way of life. Menjadi denyut kehidupan yang mengisi hari-hari mereka. Yang membuat hidup mereka menjadi lebih hidup.
Diiringi secangkir kopi mereka membicarakan apa saja. Mengenang peristiwa kehidupan yang menyenangkan dan melupakan kisah-kisah kehidupan yang menyedihkan.
Dari rasa kopi yang pahit dan manis mereka belajar bahwa begitulah kehidupan itu adanya. Kadang senang dan kadang sedih. Kadang untung dan kadang rugi. Hidup yang terus berjalan harus selalu disyukuri. Dirayakan meski hanya dengan secangkir kopi.
"Oh, ya, Cak, segera diminum kopinya," ingat Cak Golden. "Nanti keburu dingin. Tak enak!"
"Siap," jawabku. "Yuk, mari bersulang!"

Hujan dan lelaki dengan senyum

Suara ratusan tetes hujan yang menghantam genteng rumah terdengar semakin ribut. Aku mendekam di kamar sempit nan lembap ini sendirian. Kamar yang biasanya hangat ini menjelma dingin di musim penghujan. Remang lampu neon lima watt yg kupandangi sejak tadi sembari meraba suara hujan kini perlahan berpendar.
Aku benci hujan. Apalagi hujan deras. Aku lebih benci lagi musim hujan. Sesuatu tentang hujan selalu membuatku kesepian. Hujan berarti ketidakhadiran lelaki itu. Lelaki dengan senyum menawan yang begitu kucinta.
Aku jatuh cinta dengan senyumnya yang menawan. Hingga perlahan aku juga mulai mencintai sang pemilik senyum itu. Selama tiga tahun ini, aku adalah pelangi yg mewarnai hidupnya yang serba monokrom.
Paling tidak begitulah menurutnya. Entah itu benar atau hanya bualan klise. Aku telan saja bulat-bulat. Terkadang cinta mampu menyulap semua ucapannya menjadi sabda yang selalu shahih di dtelingaku.
Jika hujan turun, lelaki dengan senyum menawan itu harus pulang ke rumahnya. Rumah yang sesungguhnya. Rumah yang ditempati wanita utamanya. Wanita sah nya yang dikenal dunia.Jika hujan turun, lelaki dengan senyum menawan itu tak akan datang. Dan aku harus melewati malam panjang sendirian. Itu komitmen yg kami sepakati. Jadi musim penghujan adalah akumulasi kesepian panjang yang terus kudekap dan kuakrabi.
Rumah yang berisi  ruang-ruang monokrom yang tidak ia suka namun terasa lebih nyata. Katanya, hujan selalu berarti dingin. Wanita utamanya selalu butuh kehangatan disaat hujan. Dan ia harus berada di rumah dengan ruang serba monokrom itu.
Hujan adalah pertanda untuk mengalah. Untuk kemudian, berbagi cinta dengan sang wanita utama yang juga butuh kehangatannya.
Bukankah hujan membuat segala sesuatu menjadi tidak adil? Aku mengalah dan hanya menerima sisa waktu lelaki itu semata-mata karena aku adalah si wanita yang mengenalnya belakangan.  
Hujan tidak selamanya berkah bagiku. Hujan terang-terangan menyadarkanku bahwa aku hanya mampu menerima sepotong cinta yang sudah terbelah.
Pikiranku kembali ke kamar lembap ini. Hujan kemudian semakin deras. Lampu neon lima watt itu kulihat tak lagi berpendar. Mungkin karena bulir air di rongga mataku sudah menetes.
Februari yang masih hujan.

Makassar, 22 februari 2017

Senin, 13 Februari 2017

Valentine's day: cinta dan pengorbanan yang dilupakan

PETA VS VALENTINE'S DAY


Tanggal 14 Februari merupakan hari yang ditunggu di kalangan pemuda-pemudi di seluruh dunia terkhusus di Indonesia. Pasalnya hari tersebut merupakan hari kasih sayang (valentine). Maraknya perayaan hari "kasih sayang" yang diadopsi dari barat disambut gembira dan dimeriahkan oleh remaja Indonesia.
Tak ketinggalan media jejaring sosial pun dipenuhi status-status berbau Valentine. Mereka begitu sibuk dengan Hari Valentine yang pada dasarnya tak memiliki manfaat dan makna khusus bagi bangsa Indonesia.

Dalam momentum ini khalayak remaja yang beranjak dewasa di Indonesia merayakan hari kasih sayang tersebut dengan bertukar cokelat, kartu ucapan, maupun barang yang lain dengan berbentuk kado sebagai simbolisasi atas rasa sayang terhadap pasanganya.
Momen Valantine juga dijadikan ladang bisnis oleh pihak kapitalisme dengan menjual berbagai produk seperti cokelat, bunga, boneka dan hadiah-hadiah lainnya yang berwarna pink (warna yang identik dengan cinta). Padahal, Valentine's Day bukan budaya asli Indonesia.
Lebih parahnya lagi, tak jarang juga momentum di hari tersebut digunakan untuk berhubungan intim di luar nikah. Seperti yang di lansir oleh merdeka.com (12/02/2016), “Beberapa toko obat dan apotek, penjualan kondom meningkat di seluruh indonesia. Meski belum dipastikan tujuan penggunaan dan kalangan penggunanya, namun yang membeli alat kontrasepsi itu, umumnya anak usia remaja dan kalangan mahasiswa.”
Hal ini menjadi bukti otentik bahwa identiknya hubungan seks dengan perayaan hari kasih sayang.
Memang pada 14 februari selalu banyak mengundang perdebatan, berbagai pendapat dan kepentingan beradu sangat tajam. Antara menjadi sebuah hari sakral atau anti penyakralan terhadap hari tersebut. Sebagian orang memang menggangap bahwa hari tersebut merupakan hari kasih sayang, (valentine), tak jarang pula sebagaian orang yang berusaha menolak konsepsi maupun manifestasi dari hari valentine terebut.
Di tengah adanya pro kontra terkait perihal tersebut ingatkah bahkan  tahukah kita bahwa 72 tahun silam bertepatan dengan tanggal 14 Februari, merupakan hari dimana gerakan pemuda dan sekelompok anak Bangsa yang membuktikan cinta dan pengorbananya lewat perjuangan senjata dan taruhan nyawa, melawan penjajah dengan tujuan menjadikan Indonesia lebih bermartabat. Bukan hanya sekedar rayuan gombal maupun dengan coklat.
Ya itulah tragedi pemberontkan Pembela Tanah Air di Blitar 14 Februari 1945.
Mengingat sejarah kembali pemberontakan PETA
Dalam sejarah indonesia 14 februari di peringati sebgai hari besar untuk mengenang tragedi pemberontakan Pembela Tanah Air (PETA) yang di pelopori oleh sudancho supriadi. PETA merupakan organisasi semi militer dan militer bentukan jepang pada tanggal 03 Oktober 1943.
Hal ini di lakukan oleh Jepang guna menarik simpatik masyarakat Indonesia dalam upaya membantu bergabung dalam pertempurann Asia pasifik serta menggelorakan masyarakat Indonesia untuk tetap mempertahankan Indonesia dari sekutu. Organisasi ini sangat dimintai oleh masyarakat Indonesia kususnya di kalangan pemuda, akhirnya pelatihan militer pertamnya dilaksanakan di Bogor.
Salah satu dari sekian banyak purnawirawan PETA yang melegenda ialah sosok yang bernama Supriadi. Ia merupakan lulusan pertama sekolah militer yang dilaksanakan di Bogor. Setelah pelatihan tersebut mereka yang tergabung dalam latihan militer di kembalikan ke daerah asalnya untuk bertugas di bawah Deidan (Batalyon)
Hati nurani mereka (PETA) pun tersayat melihat dan merasakan tatkala rakyat di perlakukan tidak manusiawi, seperti halnya tenaga rakyat di peras, harta benda di kuras. Sedangkan perempuan di lecehkan dan diperlakukan sewenang oleh tentara Jepang.
Selain daripada itu ada sebuah peraturan yang mengahruskan perwira PETA harus patuh dan hormat pada tentara Jepang mekipun lebih rendah pangkatnya. dalam tulisan Joyce J Lebra yang di  terjemahkan oleh sinar harapan tahun 1988, mengatakan bahwa melihat kondisi tersebut Supriadi mempunyai inisiasi untuk melakukan pemberontakan bahkan sekaligus revolusi melawan penindasan Jepang yang di laksankanya pertemuan rahasia pada september 1944.
Para pemberontak pun menghubungi komandan Batalyon setiap wilayah untuk bersama sama mengangkat senjata dan menggalang kekuatan rakyat guna melawan Jepang. Akan tetapi di sela-sela mematangkan persiapan pemberontakan, adanya pertemuan tersebut akhirnya  tercium oleh Polisi rahasia Jepang.
Mengetahui hal tersebut Supriyadi merasa cemas dan khwatir, akhirnya pada tanggal 13 Februari 1945 pemberontakan harus di lakukan, akibat ketidak matangan perihal persiapan akhirnya ada sebagian PETA blitar yang tidak memberontak. Dari pada itu pun Supriadi mengatakan meskipun semua PETA tidak memberontak, maka jangnalah menyakiti sesama PETA, kita harus melawan Jepang.
Akhirnya pada pukul 03.00 wib tanggal 14 Februari tentara peta yang di pimpin supriyadi menembakan mortir di hotel Sakura ( kediaman Perwira Jepang). Namun rupanya hotel tersebut sudah di kosongkan, karena jepang sudah mencium gerak dari pemberontakan PETA. Dalam salah satu aksi, salah seorang Bhudancho (Bintara PETA) merobek poster bertuliskan “Indonesia Akan Merdeka”, dan menggantinya dengan “Indonesia Sudah Merdeka!”
Dengan waktu singkat Jepang mengirimkan tentara untuk memadamkan pemberontakan, alhasil 78 Perwira dan prajurit PETA ditangkap, kemudian di jebloskan ke penjara serta diadili di Jakarta. Dalam peristiwa itu, 6 orang di hukum mati, 6 orang di vonis penjara seumur hidup, dan sisanya di hukum sesuai tinggkat kesalahannya.
Namun apa yang terjadi pada pemimpin pemberontak yang bernama Supriyadi tidak jelas di mana keberadaanya, seakaan hilang di telan pekatnya malam. Sebagian mengatakan Supriadi telah terbunuh kita pertempuran tersebut.
Tragedi ini menginspirasi PETA di berabagai wilayah di Indonesia, hal ini di pertegas oleh sejarawan Patrick Matanasi yang mengatakan pemberontakan tersebut juga terjadi di Cilacap dan Bandung. Setelah kemerdekaan Supriadi diangkat menjadi menteri keamanan yang pertama oleh presiden Soekarno, akan tetapi dia tidak pernah muncul sama sekali di bumi Indonesia.
Atas jasanya sebagai pelopor kemerdekaan, Supriadi dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional, terbukti dengan Surat Keputusan Presiden nomer 063/TK/1975 pada bulan 9 agustus 1975. Lihat (tokohindonesia.com)
14 Februari Cinta dan Pengorbanan yang Dilupakan
Bung Karno selalu mengatakan semboyan Jasmerah; jangan sekali-kali melupakan sejarah, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghargai sejarahnya. Jika tidak, maka kita akan terus menjadi bangsa yang kecil dan tidak dilirik orang.
Sepertinya Jasmerah telah luntur begitu saja. Padahal, jika kita mengenang sejarah Indonesia, sangat tidak mudah kemerdekaan negeri ini diraih. Dengan cinta dan pengorbanan para pahlawan yang tak mengenal balas jasa. Mereka mengorbankan apa saja, bahkan tak segan bertarung nyawa demi kemerdekaan Indonesia.
Selama ini apa yang menjadi realitas di kalangan pemuda di Republik disibukkan dan berkosentrasi pada seputar 14 februari yang disebut dengan Valentine day, daripada menguras pikiran dan kosentrasinya untuk membangun bangsa yang lebih bermartabat.
Tragedi PETA, sepatutnya sebagai generasi muda bangsa Indonesia untuk memperingati dan merefleksikan semangat semangat pahlawan, bukan melainkan kita merayakan hari yang di mana bukan berasal dari budaya dan akar sejarah Indonesia.
Siapakah yang Harus Disalahkan?
Seyogianya patut direnungkankan, apakah semua hal di atas merupakan murni kesalahan generasi Bangsa? Bagaimana peran media yang seharusnya menjadi kunci utama untuk mengenalkan hari sejarah kebangsaan kepada msyarakat? Menurut yang saya ketahui bahwa media elektronik maupun media massa sering kali memberitakan seputar perayaan Valentine Day secara besar besaran dari pada perayaan memeperingati hari PETA.
Selain itu juga pendidikan juga memiliki kontribusi penting dalam meberikan pengetahuan. Baik dalam formal maupun non formal. Secara formal lewat lembaga pendidikan (SD,SMP, SMA, dan PT), dan adpun secara nonformal lewat didikan keluarga untuk menanamkan nasionalisme dan menghargai jasa pahlawan sejak dini.
Berbagai usaha harus dilakukan dalam mengatasi problem seperti ini, tanpa adanya upaya kerja sama semua pihak, maka mustahil untuk menghilangkan perayaan Valentine Day yang sudah membudaya di kalangan remaja Indonesia untuk digantikan perayaan hari PETA.

Kamis, 09 Februari 2017

DALAM PANDANGAN DUNIA ISLAM

Dalam Pandangan Dunia Islam, alam wujud ini memiliki Tuhan yang menciptakan dan mengaturnya. Manusia adalah makhluk imortal yang tidak akan binasa dengan kematian, tapi berpindah dari dunia ini menuju alam akhirat untuk mendapatkan ganjaran perbuatan baik dan buruk yang dilakukannya.
Islam memandang manusia sebagai makhluk berikhtiar dan mukallaf (menerima tugas dan tanggungjawab). Ia tidak diciptakan tanpa suatu tujuan, tapi ia lahir untuk mendapatkan kesempurnaan jiwa dan bergerak menuju Allah yang akhirnya bermuara pada kehidupan bahagia di akhirat. Manusia adalah makhluk dua dimensi:
Dari satu sisi, ia adalah makhluk yang mempunyai naluri hewani dan hawa nafsu, yang mau tidak mau, harus dipenuhi olehnya.
Di lain pihak, ia memiliki ruh malakuti yang membuatnya lebih unggul dibanding hewan-hewan lain. Sebab itu, dia diangkat menjadi khalifah Allah dan kedudukannya lebih tinggi ketimbang malaikat. Kehidupan batin manusia juga memiliki kebahagiaan dan kesengsaraan. Ia bisa mencapai kesempurnaan dengan syarat ia mampu mengembangkan dimensi insani dan malakutinya serta mengontrol hawa nafsu hewaninya.
Di sinilah kedudukan nilai-nilai akhlak akan terlihat, yaitu kesempurnaan jiwa yang selaras dengan ruh malakuti manusia dan yang akan menyinari jiwanya serta menenangkannya.
Adapun akhlak tercela dan tenggelam dalam hawa nafsu, sangat kontras dengan ruh dan hakikat mulia manusia. Kedua hal ini akan melemahkan sisi insaninya dan menyeretnya ke jurang kehinaan.
Meski Islam menyebut nilai-nilai akhlak selaras dengan fitrah manusia, tapi ia tidak menganggapnya cukup dalam menyeru manusia kepada akhlak terpuji dan menjauhkannya dari akhlak tercela. Oleh karena itu, ia menyeru manusia kepada akhlak terpuji melalui cara mempertebal iman kepada Allah, hari akhir, janji pahala ukhrawi dan ancaman siksa neraka.
Akhlak dalam Islam bertumpu atas iman kepada Allah, hari akhir, harapan akan pahala dan rasa takut dari azab yang merupakan jaminan terbaik seseorang berakhlak mulia. Dampak dari iman kepada Allah dan mencari ridha-Nya adalah seseorang bisa lebih mudah mengendalikan naluri hewaninya dan menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan seperti itsâr (altruisme: mementingkan orang lain), pengorbanan, membela orang terzalimi, memerangi kezaliman, menegakkan keadilan, jihad, sifat amanah dan berbuat baik kepada orang lain.
Pada prinsipnya, Islam menilai harga setiap perbuatan dari sisi iman dan niat taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Norma-norma akhlakpun akan memberi kesempurnaan dan kebahagiaan kepada manusia bila didasari iman dan niat taqarrub. Bila tidak, maka semuanya akan sia-sia., walau dalam pandangan umum, hal itu masih dianggap sebuah keutamaan.



Menurut ulama, definisi perbuatan akhlak (fi`l akhlaqi) adalah: Perbuatan atau sifat yang kebaikan atau keburukannya diketahui akal sehat dan semua manusia, di semua zaman dan tempat, sepakat tentang kebaikan atau keburukannya. Perbuatan akhlak adalah suatu tindakan yang kebaikannya diketahui nurani dan seorang merasa harus melakukannya atau tindakan yang keburukannya diketahui nurani manusia hingga membuatnya merasa bahwa itu tidak sesuai dengan sifat insaninya dan harus ditinggalkan.
Dalam Islam, akhlak terpuji memiliki kedudukan dan nilai yang sangat penting hingga ia disebut sebagai salah satu tanda keimanan. Ia juga disebut sebagai salah satu amalan yang memiliki timbangan terberat di hari akhir. Sedemikian pentingnya mengembangkan akhlak terpuji hingga menjadi salah satu tujuan pengutusan Nabi saw.
Al-Quran berkata, Allah memberi anugerah kepada orang-orang beriman dengan cara mengutus seorang rasul dari mereka. (Ia diutus) untuk membacakan ayat-ayat Allah kepada mereka, menyucikan diri mereka dan mengajarkan kitab dan hikmah kepada mereka, walau sebelum ini, mereka berada dalam kesesatan nyata. [50]
Rasulullah saw bersabda, “Aku berpesan kepada kalian untuk berakhlak mulia, karena Allah mengutusku untuk tujuan ini.” [51]
Beliau juga bersabda, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” [52]
Imam Muhammad Baqir as berkata, “Orang mukmin yang imannya paling sempurna adalah yang berakhlak lebih baik.”[53]
Sabda Rasul saw lainnya berbunyi, “Pada hari kiamat, tidak ada sesuatu yang lebih berat timbangannya daripada akhlak yang terpuji.”[54]
Imam Shadiq as mengatakan, “Allah memberi pahala kepada hamba-Nya berkat akhlak terpujinya sama seperti pahala yang diberikan pagi dan malam kepada seorang pejuang di jalan-Nya.”[55]
Dalam hadis lain, Rasul saw bersabda, “Akhlak terpuji adalah setengah iman.” [56]
Islam memberi banyak wejangan kepada para pengikutnya sekaitan dengan penyucian hati dan pengembangan akhlak terpuji. Banyak ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang akhlak dan moral, bahkan kebanyakan kisah-kisahnya bertujuan membentuk akhlak mulia dalam diri manusia. Ribuan hadis dinukil dari Rasul saw dan para Imam as seputar masalah akhlak terpuji dan tercela. Pahala yang dijanjikan untuk akhlak terpuji dan hukuman bagi akhlak tercela pastilah tidak lebih sedikit dari pahala dan hukuman untuk hal-hal wajib dan haram, karena keduanya adalah faktor kesempurnaan jiwa dan kedekatan kepada Allah atau kehinaan jiwa dan keterasingan dari Allah.
Maka itu, hal-hal yang berkaitan dengan akhlak harus disandingkan dengan hukum syariat atau bahkan diprioritaskan. Tidak layak bila kita mengacuhkannya hanya dengan alasan bahwa itu sekedar wejangan akhlak belaka. Pada prinsipnya, kehidupan manusia tidak mungkin lepas dari akhlak terpuji. Sebab itu, semua bangsa dan suku di dunia senantiasa berpegang kepada nilai-nilai akhlak.